Lemah

Kaya diberi tameng, mengelilingi. Susah nembusnya.
Walaupun aku coba buat meyakinkanmu, kalau sudah memutuskan, akan percuma semua tenaga yang aku keluarkan. Apalagi, kalau sudah bicara soal "yakin" dan "sudah menemukan".

Sebagai teman yang tumbuh bersama denganmu, tentu aja aku sudah cukup tau bagaimana kamu. Bagaimana kehidupanmu, bagaimana kamu sangat sayang pada mamamu, begitupula sebaliknya, walaupun tiap aku yang main ke rumahmu, tante selalu memujiku ✌

Aku tau bagaimana kamu terlalu berharga untuk mendapatkan lecet, sekecil apapun.

Sore itu, aku menyerah. Bukan lelah, tapi berusaha mempercayai keputusan yang kamu buat. Karena yang paling tahu, tentu saja dirimu. Bagaimana aku bisa bilang "udahan aja", ketika kamu bercerita dengan mata berbinar? Binar yang aku ngga bisa membedakan, antara penuh harap, atau pasrah. Menyerah dalam kekang.

Teman kecilku yang dulu sangat cengeng dan mellow, dan tukang galau, dan selalu resah, kali ini ngga meneteskan air matanya. Menceritakan bagaimana kuatnya dirimu, dengan ratusan plester yang menutup goresan luka di hatimu. Padahal kalau sudah melebihi lapisan tertentu, bekasnya akan sulit hilang :") (auto-flash back Oral Medicine).... Dan aku tau, kamu sampai pada keputusanmu kali ini pun, karena telah berhasil bangkit dari luka-luka itu.

Bolehlah berharap bahwa seseorang akan berubah. Senggaknya memperlakukan dengan lebih baik. Berharap boleh, tapi ngga akan ada yang menjamin. Seperti yang selalu kukatakan pada diriku, berani berharap, maka sudah siap untuk tenggelam. Kamu menatapku dalam-dalam, bahwa sudah ngga bisa pergi dari keadaan ini, maka kamu siap. Siap meninggalkan semuanya.

Karena kamu ngga menangis, sore itu aku yang menggantikanmu. Tersayat, seakan ikut merasakan sakit yang kamu alami.

Kesal pada diri sendiri, bahwa sebagai teman harusnya aku melindungimu, dari...... ah sudahlah. Berkali-kali aku mengatakan padamu, bahwa kamu terlalu berharga, untuk disentuh sedikitpun. Kita sendiri ngga bisa mengatur, akan jatuh hati pada siapa. Apalagi mau mengatur orang lain...

Aku tahu bahwa aku ngga punya kendali atas perasaan oranglain. Bagaimanapun kuatnya keinginanku untuk merubahnya.

Mungkin hanya prasangkaku, ya... semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sore-sore

Mengelola Ekspektasi

Learning Day 9