Etik!
![]() |
| Source: kkepkn.kemkes.go.id |
Hari Kamis-Jumat-Sabtu minggu yang lalu, aku tiba-tiba diajak oleh Kadep Departemen untuk ikutan Pelatihan Etik Penelitian, yang narasumber atau fasilitatornya adalah seorang expert langsung dari Kementrian Kesehatan: dr. Triono Soendoro 🙌 meski awalnya tak tahu siapa beliau, tapi setelah ikut pelatihan, jadi paham kenapa beliau ini adalah jagonya etik di Indonesia.
Waktu skripsi dulu, teman-teman di bidang kesehatan (dan lainnya) yang memiliki penelitian dengan melibatkan manusia pasti diwajibkan untuk bikin etik penelitian sebelum memulai. Ya ngga? Sebenarnya ngga hanya manusia sih, bahkan bakteri pun, harus diurus sertifikat etik atau ethical clearance nya. Tapi seringkali, peneliti lupa untuk mengurus, barulah ketika diminta untuk persyaratan publikasi Internasional, sibuk dan kewalahan bikinnya.
Aku berpartisipasi di acara ini, ngga cuma jadi peserta, tapi juga panitia otodidak yang mendadak ikutan H-2 acara diselenggarakan 😂 jobdesc nya sih membantu sie registrasi, tapi setelah tugas beres, aku lebih banyak di dalam ruang seminar untuk ngikutin materinya. Wkwk dasar panitia gabut.
Waktu ikut rapat (pertama dan terakhir 😂) panitia pelatihan etik, aku dapet banyak banget wawasan serta pandangan baru. Pelatihan Etik ini sebenarnya adalah pelatihan berbayar, tapi kali ini, dari Fakultas memfasilitasi staff-staff Departemen untuk turut serta secara cuma-cuma. Jadi dosen-dosen bisa ikut tanpa biaya apapun! Yang padahal biasanya, kena tarif sampai 3 juta Rupiah per orangnya.
"Kenapa sih kok kita capek-capek, maksa-maksa staff Fakultas untuk ikut pelatihan ini? Kenapa sih kok kita sampai menggratiskan pelatihan ini untuk mereka? Kenapa sih kita kok kepengen banget mereka bisa ikut pelatihan?"
Ketua panitia pelatihan, Prof.Rubianto, menanyakan hal ini pada panitia-panitia lainnya. Seakan menantang dan ingin mendengar jawaban yang tepat, beliau menatap kami satu per satu.
"Ya supaya, kita punya moral dalam melakukan penelitian. Supaya kita ngga semena-mena terhadap subjek penelitian, responden, hewan coba. Semua itu ada etika nya. Bagaimana memperlakukan subjek, bagaimana memilih subjek. Kita harus tau, ngga cuma taunya Scopus-scopus doang."
*auto jadi dosen idola* hahahaha!
Banyak aku nemuin kasus, misalnya penelitian atau product testing dari kosmetik yang banyak diujikan pada kelinci dan hewan coba lainnya. Bisa baca banyak banget artikel di internet, salah satunya di https://www.peta.org/issues/animals-used-for-experimentation/animals-laboratories/
Pernah juga dibahas di National Geographic bahwa ngenes banget nasib hewan-hewan coba ini :" misalnya, setelah diberikan perlakuan fisik (tes termal), hewan coba ngga diberikan pain killer untuk meredakan rasa nyerinya. Terparah adalah mengembalikan mereka ke asalnya, setelah mendisfungsikan sebagian anggota tubuh mereka. Penelitian untuk melihat progres kanker misalnya. Tikus atau hewan yang diinduksi supaya menghasilkan sel kanker, terus kemudian, apakah diobati sampai kankernya sembuh? Ya dibiarkan mati :(
Paling heran lagi adalah dengan manusia-manusia yang tanpa informed consent, setuju untuk jadi subjek penelitian, dengan iming-iming bayaran yang tinggi. Biasanya sih, untuk percobaan obat-obatan. Walaupun pada akhirnya itu adalah keputusan si subjek, tapi sebagai peneliti, dimana hati nurani kita yang asal ambil, asal pilih, asal memberikan intervensi... pada manusia pula.
"Sejarah kelam pernah ditorehkan oleh penelitian bidang kedokteran di benua Eropa pada abad pertengahan. Kala itu, para tahanan yang dianggap manusia terkutuk dapat dijadikan subjek penelitian kedokteran dengan alasan hasilnya dapat bermanfaat bagi manusia." (Juneman, 2013)
:( tahanan, tawanan perang, sering jadi subjek dan objek penelitian. Tanoa informed consent. Tanpa ijin. Tanpa mempertimbangkan keputusan dan kemauan mereka. Tanpa melihat apakah mereka wanita, anak-anak, orangtua...... (artikel mengenai sejarah etik dapat dilihat disini)
Karena itu, butuh aturan, butuh etika penelitian yang HARUS diikuti oleh peneliti, sebelum melakukan penelitian.
Beruntung, masih banyak orang-orang yang melihat pelanggaran dan penelitian seenaknya ini sebagai suatu issue yang harus diberikan aturan. Bahwa sebagai peneliti, kita harus memiliki moral, harus menjunjung kemanusiaan, apalagi kalau penelitiannya berkaitan dengan manusia. Itu nyawa dan masa depan mereka ada di tangan kita lho .___.
Pelatihan etik penelitian yang aku ikuti ini mengupas tuntas Buku Pedoman Etik Penelitian yang dikeluarkan WHO, yang mana isinya sangat rinci, detil, dan diluar perkiraanku. Bahkan sampai kompensasi, pemilihan subjek, batasan resiko yang diterima, sampai bagaimana memperlakukan wanita, anak-anak, orangtua sebagai subjek atau objek penelitian dibahas disana. Kami juga diberikan beberapa kasus tentang rangkuman penelitian orang-orang, kami diminta menganalisa dan menilai apakah penelitian tersebut lulus etik atau tidak. Seruu banget! Semakin membuka mataku bahwa memperlakukan orang lain tuh harus dengan baik :")
Sebelum melakukan penelitian, harus lulus laik etik terlebih dahulu, supaya tahu apakah penelitian kita ini proper, dan layak dilaksanakan. Kalau ngga lulus, berarti ngga layak, dan ngga boleh protes. Kan pedoman yang digunakan sudah benar-benar baik.
"Jadi komisi etik tuh, kebaikan. Mungkin pahala surga kalau menjalankan tugas dengan benar. Karena kita yang menentukan, kita yang menilai, apakah penelitian ini punya manfaat dan kebaikan yang lebih besar daripada mudaratnya. Apakah penelitian ini layak."
Itulah sebabnya, untuk menilai laik etik penelitian kesehatan, dibutuhkan orang awam (dari bidang luar kesehatan) yang lebih bisa menilai dari sisi sosial dan manusiawi.. dr. Triono cerita, kalau banyak orang-orang dari luar bidang medis atau kesehatan yang tertarik belajar etik penelitian kesehatan, karena mereka concern dengan issue percobaan penelitian pada manusia dan hewan :")
Intinya, be wise ketika melakukan penelitian, apalagi kalau melibatkan makhluk hidup. Mungkin ketika kita seenaknya di dunia, kita juga bakal di "seenakin" di akhirat....
****
Pernah tau issue tentang trial vaksin dengan cara melepas virus atau patogen di negara berkembang? Baru issue, dan mungkin ngga akan ada bukti kuatnya. Makanya kadang.... aku ngga terlalu percaya sama WHO atau badan kesehatan dunia lainnya :") *wkwkkw anak teori konspirasi*
Reference:
- Juneman Ed. 2013. Isu Etik Dalam Penelitian di Bidang Kesehatan. Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia (AIFI) dan Universitas Yarsi: Jakarta
- Syahputra G. 2018. Etika dalam Penelitian Biomedis dan Uji Klinis. BioTrends Vol.9 No.1.

Komentar
Posting Komentar