Jadi?
"Si X tunangan lho.."
"Si Y kemarin melahirkan.."
"Si Z bulan depan akan menikah.."
Adalah kalimat-kalimat lumrah, yang selalu bakal keluar ketika aku kumpul bareng teman-teman. Siapapun itu. Karena.... mungkin emang sudah waktunya generasi ku kali ya, untuk masuk di babak baru kehidupan.
"Sudah waktunya" bukan berarti harus dan wajib melaksanakan secepatnya, atau ada deadline kaya pengumpulan berkas apply beasiswa *teror :"""""
Hahaha! Nooo.. aku nulis ini bukan karena habis diteror sih, atau dihantui sama bayang-bayang teman-teman yang sekarang sedang sibuk dengan dunia barunya. Kepengen? Iya, pasti. Sekarang? Em...
Menikah dan punya anak, memang sepertinya jadi impian (hampir) semua wanita ya. Rasanya sempurna gitu, kalau dua checklist tadi udah terpenuhi. Lihat beberapa sahabatku, mereka tampak bahagia banget menjalani kehidupan sebagai seorang ibu. Wajah anak mereka hampir tiap hari nampang di socmed, menunjukkan gimana bersyukurnya mereka sudah ketemu sama buah hatinya. Atau yang sudah menikah dan punya suami. Yang katanya "Kalau tidur sekarang ada yang nemenin." Oke..... dari cerita mereka, semua tampak membahagiakan. Siapa sih yang ngga mau segera merasakan kebahagiaan itu?
Tapi...
Menikah dan punya anak, bukan buat lomba, atau balapan. Itu tanggung jawab yang besar :") kamu akan jadi orang yang bangun paling pagi, sampai pusing memikirkan mau masak apa buat anak dan suami, mengatur keuangan keluarga, dan banyak kegiatan-kegiatan baru yang dilakukan. Memang membahagiakan kok. Pertanyaannya, sudah siapkah?
Kalau memang belum siap, kenapa harus buru-buru? ---- tiap aku bilang gini, selalu ditangkis orang-orang dengan "Halah, bilang aja belom ada calon.." wkwkw kesel ga sih.
Balik lagi, karena pernikahan bukan balapan, bukan ikut-ikutan karena euforia yang lagi bertebaran di generasiku, jadi.. lakukan ketika sudah siap. Walaupun pada prakteknya, kita ngga akan pernah benar-benar siap. Tapi ya, semisal ada beberapa indikator siap nya kita nih, paling ngga keisi 2 atau 3 lah. Karena semua kan butuh persiapan, butuh proses.
"Lebih cepat lebih baik Ra. Nanti rejeki, dan lainnya semua bakal mengikuti kok,"
----- ya monggo. Kalau aku sih, lebih pengen mempersiapkan dengan baik dulu :)
Bukannya aku ngga pengen menikah ya, hanya saja, ngga ingin buru-buru. Pengennya di waktu yang tepat, ngga cuma cepat. Bisa jadi juga karena belum masuk target nikahku, makanya aku santai-santai. Cuma, aku percaya kalau jodoh tuh InsyaAllah udah digariskan dari sebelum kita lahir kan? Kalau mau dekat dengan jodoh, berarti harus dekat juga sama yang ngasih jodoh....
Yang bikin banyak orang tertekan justru adalah ekspektasi dan lambe orang-orang di sekitarnya. "Kapan nikah?" "Udah isi apa belom?" "Kapan mau nambah anak ke2 lagi?" yang karena kita ngga tau rasanya, jadi menganggap pertanyaan tersebut hanya basa-basi ya. Siapa tau dia udah nyari, tapi belum ketemu jodohnya. Dia udah berusaha maksimal. Siapa yang tau hayo kalau mereka udah mencoba berbagai cara buat mendapatkan keturunan? Siapa yang tau hayo kalau mereka habis keguguran anak kedua? Jadi.... kalau emang mau cari topik bahasan yang terkesan akrab, cari topik lain lah. Mungkin bisa ditanyakan, "Kamu pilih satu atau dua?" Wkwkwk ((itu juga pertanyaan sensitif, RAaaaaa!!!))
Jadi ya... memang lebih cepat lebih baik, ketika semua sudah sama-sama siap. Menuju siap ini butuh proses. Tau ngga, angka perceraian di Indonesia semakin meningkat. Sampai harus diwajibkan ikutan seminar pra-nikah lho, berarti persiapan itu sangat penting kan?
Semua kembali ke masing-masing orang kok ya, dilihat dari esensi menikah tiap orang berbeda. Pilihan kan ada di diri sendiri ;)
Semogaaa semuanya didekatkan jodohnya ya. Dan segera dipertemukan dalam waktu dan keadaan yang tepat! :)
- ditulis oleh Rara, yang lumayan sedang banyak waktu luang karena lagi liburan Sincia-
"Si Y kemarin melahirkan.."
"Si Z bulan depan akan menikah.."
Adalah kalimat-kalimat lumrah, yang selalu bakal keluar ketika aku kumpul bareng teman-teman. Siapapun itu. Karena.... mungkin emang sudah waktunya generasi ku kali ya, untuk masuk di babak baru kehidupan.
"Sudah waktunya" bukan berarti harus dan wajib melaksanakan secepatnya, atau ada deadline kaya pengumpulan berkas apply beasiswa *teror :"""""
Hahaha! Nooo.. aku nulis ini bukan karena habis diteror sih, atau dihantui sama bayang-bayang teman-teman yang sekarang sedang sibuk dengan dunia barunya. Kepengen? Iya, pasti. Sekarang? Em...
Menikah dan punya anak, memang sepertinya jadi impian (hampir) semua wanita ya. Rasanya sempurna gitu, kalau dua checklist tadi udah terpenuhi. Lihat beberapa sahabatku, mereka tampak bahagia banget menjalani kehidupan sebagai seorang ibu. Wajah anak mereka hampir tiap hari nampang di socmed, menunjukkan gimana bersyukurnya mereka sudah ketemu sama buah hatinya. Atau yang sudah menikah dan punya suami. Yang katanya "Kalau tidur sekarang ada yang nemenin." Oke..... dari cerita mereka, semua tampak membahagiakan. Siapa sih yang ngga mau segera merasakan kebahagiaan itu?
Tapi...
Menikah dan punya anak, bukan buat lomba, atau balapan. Itu tanggung jawab yang besar :") kamu akan jadi orang yang bangun paling pagi, sampai pusing memikirkan mau masak apa buat anak dan suami, mengatur keuangan keluarga, dan banyak kegiatan-kegiatan baru yang dilakukan. Memang membahagiakan kok. Pertanyaannya, sudah siapkah?
Kalau memang belum siap, kenapa harus buru-buru? ---- tiap aku bilang gini, selalu ditangkis orang-orang dengan "Halah, bilang aja belom ada calon.." wkwkw kesel ga sih.
Balik lagi, karena pernikahan bukan balapan, bukan ikut-ikutan karena euforia yang lagi bertebaran di generasiku, jadi.. lakukan ketika sudah siap. Walaupun pada prakteknya, kita ngga akan pernah benar-benar siap. Tapi ya, semisal ada beberapa indikator siap nya kita nih, paling ngga keisi 2 atau 3 lah. Karena semua kan butuh persiapan, butuh proses.
"Lebih cepat lebih baik Ra. Nanti rejeki, dan lainnya semua bakal mengikuti kok,"
----- ya monggo. Kalau aku sih, lebih pengen mempersiapkan dengan baik dulu :)
Bukannya aku ngga pengen menikah ya, hanya saja, ngga ingin buru-buru. Pengennya di waktu yang tepat, ngga cuma cepat. Bisa jadi juga karena belum masuk target nikahku, makanya aku santai-santai. Cuma, aku percaya kalau jodoh tuh InsyaAllah udah digariskan dari sebelum kita lahir kan? Kalau mau dekat dengan jodoh, berarti harus dekat juga sama yang ngasih jodoh....
Yang bikin banyak orang tertekan justru adalah ekspektasi dan lambe orang-orang di sekitarnya. "Kapan nikah?" "Udah isi apa belom?" "Kapan mau nambah anak ke2 lagi?" yang karena kita ngga tau rasanya, jadi menganggap pertanyaan tersebut hanya basa-basi ya. Siapa tau dia udah nyari, tapi belum ketemu jodohnya. Dia udah berusaha maksimal. Siapa yang tau hayo kalau mereka udah mencoba berbagai cara buat mendapatkan keturunan? Siapa yang tau hayo kalau mereka habis keguguran anak kedua? Jadi.... kalau emang mau cari topik bahasan yang terkesan akrab, cari topik lain lah. Mungkin bisa ditanyakan, "Kamu pilih satu atau dua?" Wkwkwk ((itu juga pertanyaan sensitif, RAaaaaa!!!))
Jadi ya... memang lebih cepat lebih baik, ketika semua sudah sama-sama siap. Menuju siap ini butuh proses. Tau ngga, angka perceraian di Indonesia semakin meningkat. Sampai harus diwajibkan ikutan seminar pra-nikah lho, berarti persiapan itu sangat penting kan?
Semua kembali ke masing-masing orang kok ya, dilihat dari esensi menikah tiap orang berbeda. Pilihan kan ada di diri sendiri ;)
Semogaaa semuanya didekatkan jodohnya ya. Dan segera dipertemukan dalam waktu dan keadaan yang tepat! :)
- ditulis oleh Rara, yang lumayan sedang banyak waktu luang karena lagi liburan Sincia-
Komentar
Posting Komentar