Pilihan



Pernah lihat meme ini?........
Sebagai seseorang yang dari jaman SD selalu baris paling depan kalau upacara dan diminta mengurutkan sesuai tinggi badan, aku cuma bisa ketawa lihat meme ini. Ngga salah sih, karena beberapa orang "ngga tinggi" yang aku tahu, emang cenderung lebih galak dan jutek wkwkwkw.
Termasuk aku ngga, Dic?

Iseng-iseng aku cari artikel penelitian yang membahas ini, dan benar aja dapet banyak banget. Misalnya bisa diakses di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2729491/ tentang stabilitas emosi yang dimiliki orang-orang bertubuh jenjang. Rasisme tinggi sebenernya, tapi yasudahlah.. *Lha emosi lagi*

Sindrom (?) ini bisa dibilang sebagai "Napoleon Complex", yang gampangnya adalah perasaan inferior yang dirasakan orang-orang bertubuh mungil, ditunjukkan dengan munculnya agresivitas terhadap orang yang bertubuh lebih tinggi. Disertai juga dengan sikap mendominasi. Kenapa disebut Napoleon? Karena teori sifat dan perilaku ini mirip sama Napoleon yang bertubuh mungil, tapi mengkompensasi keadaan tersebut dengan kekuatan dan kekuasaan dia. Dia tahu bahwa tubuh mungilnya adalah kelemahan dia, disaat yang bersamaan, dia terintimidasi dengan pengawal-pengawalnya yang badannya jauh lebih tinggi. Supaya tetap dianggap superior, maka dia harus punya sesuatu yang ngga dimiliki pengawal tadi: kekuasaan dan kekuatan.

Itulah kenapa biasanya orang yang bersalah atau ngga punya argumen yang baik akan cenderung lebih galak, karena menutupi kelemahannya.

Hal ini sama kaya yang aku baca di komik Lookism. Demi bertahan hidup, seorang laki-laki harus jadi kuat, dan ngga boleh tampak lemah di depan oranglain. Supaya ngga dianggap lemah dan ngga berdaya, jadilah dia orang jahat, yang kasar dan ngga ramah sama orang.

Dengan adanya dasar seperti ini, ngga lantas aku menjadikannya supaya oranglain maklum, kalo aku galak. Aku ngga galak gaesss ;_______; cuma kadang-kadang ngga sabaran dan suka gemes aja... wk

Emm, sebenernya, aku pun beberapa kali menerapkan trik Napoleon ini. Maksudnya dengan menunjukkan kalau aku ngga lemah, dengan bersikap kuat dan galak, tegas. Menunjukkan power bahwa aku berani, bahwa aku bisa. Yang aku ngga paham, bahwa sikap seperti itu dibutuhkan dikeadaan tertentu aja. Kalau keterusan, kamu akan jadi orang paling ngga banget sedunia......

Pernah ngga, merasa bangga, bisa (misalnya) beradu argumen dengan orang yang punya kekuatan lebih besar dari kamu? Dan hasilnya, kamu bisa mempertahankan pendapat kamu. Iya, pasti bangga banget. Apalagi kalau pendapat kamu diterima, karena diakui, dengan rasa hormat. Pendapatmu kamu sampaikan dengan penuh respect terhadap argumen oranglain. Bukan dengan nada tinggi, menjatuhkan. Ketika kamu menang dalam suatu perdebatan, poin nya kan bukan kemenangan itu. Bahkan agree to disagree pun bisa dikatakan kamu menang...

Yang salah adalah, ketika kamu terbiasa seperti itu. Menunjukkan taring, tanpa tahu posisi, dan situasi. Melupakan rasa hormat, dengan bangganya menunjukkan diri yang sangat ngga sopan, dan terlihat punya pikiran dangkal.

"Kamu boleh menunjukkan kekuatan, kamu boleh keras, tapi jangan jadikan itu karaktermu. Hal-hal seperti taring itu, baiknya muncul kalau dibutuhkan saja." adalah kalimat yang disampaikan oleh seseorang yang aku kagumi (pakai banget).

Yang menampar diriku, yang selama ini berpikir aku harus menjaga diriku dengan bersikap kuat.

Tubuh mungil bukan alasan aku bisa teriak-teriak, atau memaki-maki orang yang ngga sesuai dengan ekspektasiku. Kekuatan yang aku punya, ngga lantas baik untuk selalu aku tunjukkan. Dan ngga selamanya baik dilakukan untuk melindungi diriku, dari rasa ngga percaya diri ini.

Karena yang baik, adalah yang masih bisa diajak bicara ketika marah sekalipun.
Karena bukan karakternya. Sindrom napoleon bukan alasan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sore-sore

Mengelola Ekspektasi

Learning Day 9